Connect with us

Divif 2 Kostrad

Denpom Divif 2

Markas Polisi Militer di Lawang Terbuka untuk Sipil, Dulu Pabrik Es hingga Tempat Tawanan Perang

Diterbitkan

pada

Pendiv2 – Wisata sejarah di Kabupaten Malang sepertinya memiliki potensi bagus untuk dikembangkan. Kekhasan warisan budaya yang tersaji, memberi sensasi tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung.

Di Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, banyak ditemui bangunan-bangunan lawas peninggalan era kolonial. Salah satu yang menarik dikunjungi adalah markas Corps Polisi Militer (CPM).

Akses menuju bangunan yang memiliki gaya arsitektur kolonial ini sangat mudah. Yakni terletak di kiri jalan menuju Kota Malang.

Setelah melintasi jalur fly over Lawang, anda bisa langung menengok ke arah kiri dan menemukan bangunan yang dimaksud.

Bangunan ini berdiri di atas tanah seluas hampir satu hektar. Tepatnya memiliki luas 9847 meter. Komandan Detasemen Polisi Militer (Dandenpom) Divisi Infanteri 2 Mayor Cpm Hanri Wira Kusuma menerangkan, kompleks yang memiliki dua bangunan kembar bersejarah tersebut, menjadi saksi bisu pada zaman pendudukan Belanda di Lawang.

Berdasarkan catatan sejarah, gedung itu pertama kali ditempati oleh warga etnis Tionghoa, hingga akhirnya kemudian diambil alih oleh Pemerintah Belanda. Konon, gedung ini berdiri sejak tahun 1900an.

“Bangunan ini difungksikan sebagai tempat penampungan tawanan perang oleh Belanda,” terang Wira.

Wira menambahkan, gedung ini sekarang menjadi asrama militer dan perkantoran. Terdapat dua gedung kembar masing-masing bernama Gedung Wira Bumi dan Gedung Wira Dharma.

Untuk peruntukannya, Gedung Wira Bumi digunakan untuk asrama prajurit. Sedangkan Gedung Wira Dharma, digunakan sebahai kompleks perkantoran militer.

Ditengah dari gedung besar tersebut, terdapat gedung kembar lain yakni Gedung Wijaya Bakti. Ukuran dan desain dari gedung ini lebih sederhana bila dibandingkan gedung di sebelahnya. berkesempatan melihat lebih jauh isi gedung bersejarah tersebut.

Berjalan lebih mendalam, yakni di bagian belakang gedung, terdapat sebuah bertuliskan “Ijs Fabriek”.

Wira menjelaskan, sejak tahun 1919 hingga 1942 bangunan tersebut digunakan sebagai pabrik es. Kini, bangunan tersebut digunakan sebagai asrama militer.

Sepanjang mata memandang, gedung ini masih menyajikan nuansa lawas khas bangunan kolonial. Tak ada yang dirubah dari segi desain arstekturnya. Masih terjaga sampai sekarang.

Begitu pun dengan desain atap kayu jati yang terlihat tak keropos sedikitpun termakan usia. Lantainya juga masih dilapisi batu marmer. Berjalan ke lantai atas, terhampar luas panorama pengunungan di Lawang.

“Masih sangat kokoh dan bagus dari dari dulu sampai sekarang. Memang belum pernah ada yang berubah, masih sama seperti dulu,” jelas Wira.

Gedung ini juga sempat menjadi markas tentara rakyat Indonesia (TRI) pada tahun 1945 sampai dengan 1946. Hingga akhirnya ditempati oleh angkatan laut pada tahun 1946 sampai 1948.

Wira menuturkan, warga sipil memang diperbolehkan untuk mengunjungi markas tersebut. Tapi karena destinasi bersejarah ini berada di kawasan militer, terdapat prosedur yang harus dipatuhi warga sipil yang hendak berkunjung.

“Silakan bagi masyarakat yang ingin berkunjung ke sini. Kami bersedia, tapi tolong patuhi aturan yang ada dalam kesatriaan militer,” kata Wira.

Wira berharap ada langkah sinergis bersama pemerintah dan pihaknya agar bisa menjaga kelestarian bangunan yang sudah ditetaokan sebagai cagar budaya itu.

Untuk pariwisata, beberapa waktu lalu pihak Denpom juga telah memberikan kesempatan bagi para agen tour dan travel wisata untuk berdiskusi tentang konsep wisata.

Menariknya, setiap Selasa dan Jumat biasanya masyarakat sekitar akan berdatangan untuk menggelar lomba burung berkicau di kompleks Denpom Divif 2 Kostrad tersebut.

http://suryamalang.tribunnews.com/2019/03/03/markas-polisi-militer-dilawang-terbuka-untuk-sipil-dulu-pabrik-es-hingga-tempat-tawanan-perang?page=3

 

Panglima Divif 2 Kostrad

YOUTUBE

Facebook

Trending